Gw percaya takdir selalu mempertemukan di saat kita concern akan hal tersebut, makanya perlu banyak belajar (mendengar, membaca, menulis) biar segera concern. Buku ini diperuntukan bagi perempuan yang sudah menikah untuk lebih mengenal pasangannya, mungkin Gwen yang lima tahun lalu baca buku ini akan denial “kenapa harus gw duluan yang mencoba mengerti??”, seiring waktu dan pendewasaan diri, buku ini malah bantu gw untuk menjembatani “isi kepala” kami.
Oiya walau gw review bukunya, semoga kalian tertarik untuk beli dan membacanya ya, karena take home messagenya suatu buku bisa beda-beda tergantung “concern” kita saat itu, kadang ngerasa ngk sih, buku yang sama tapi di waktu berbeda bisa beda juga interpretasinya, yes itu karena value kita berkembang terus. Selamat membaca!
Kesan baca buku ini tuh mudah banget, bab nya pendek-pendek kadang banyak pengulangan yang terlihat basa basi (bagi gw yang senangnya to the point) tapi sebenarnya untuk ingetin kepala kita bahwa kita tuh lagi “berusaha” memahami orang lain loh, which is butuh pengulangan.
Buku ini dibuka dengan perbedaan laki-laki dan wanita, pria yang memiliki hipothalamus lebih besar sehingga mempunyai kecenderungan untuk
- Menjaga keamanan, bertanggung jawab untuk melindungi, mengayomi dan mengusahakan kemaslahatan keluarga serta “menafkahkan sebagian dari hartanya” dimana dia mempunyai kewajiban untuk menolong keluarganya. Sehingga kita perlu membuat kesepakatan finansial bersama akan hal ini, termasuk dia juga wajib memegang sendiri uang hasil jerih payahnya loh, para istri sang manager keuangan hanya mengatur saja.
- Pusat makan dan minum yang lebih lebar sehingga perhatikanlah makan suamimu! Walau tak pandai masak usahakan ketersediaannya
- Pusat tidur, tidak heran tiba-tiba dia tidur disela obrolan, jangan kesel fitrahnya begitu
- Pusat syahwat, ada hal yang menarik di buku ini, ada anggapan pria jarang bilang “i love you” karena bingung antara beneran cinta atau hanya syahwatnya setiap melihat istrinya, mana aja terserah yang penting itu istrinya, nggak usah overthinking yakan.
Lalu perempuan? Wanita mampu mengerjakan berbagai pekerjaan yang tidak saling berhubungan di waktu yang sama, itulah kenapa kita pandai multi tasking.
Agar semakin cinta, lihatlah suami dan berkata dalam hati “Saya mencintai suamiku fulan bin fulan lillahi ta’ala”, aseeeek!. Gw juga rada geli gimana ya pas baca bukunya, tapi coba pendekatannya belajar deh dan gw praktekin sendiri bersungguh-sungguh, ada rasa sayang dan tenang yang tiba-tiba dateng loh, terus malah senyum-senyum sendiri, wkwk.
Selanjutnya buku ini juga mengajarkan untuk bersikap manja dan bertutur kata lembut. Kalau keras dan kasar siapapun akan menjauh, oiya bedakan ya tegas dengan keras dan kasar. Banyak pria sulit “mendengar” sehingga ada baiknya kita membuat janji untuk berdiskusi seperti “Sayang, sabtu pagi jam 09.00 kita diskusi terkait A ya” hal ini mempersiapkan suami untuk berpikir dahulu sebelum nanti diskusi. Beda halnya dengan perempuan yang mau diskusi saat itu juga dan ambil keputusan saat itu juga.
Jika suami irit berbicara, bisa jadi 9.000 katanya sudah habis dipakai saat bekerja. Jadi kalau mau ngobrol panjang, bisa saat pagi hari atau hari libur. Itu jugalah kenapa gw lebih cocok bekerja, 20.000 katanya dihabiskan di RS untuk ceramah. Selain itu juga, pria senang melihat dan memegang benda contohnya tak lain tak bukan Hp, bahkan penulis mengirimkan foto via WA ke suaminya untuk menanyakan apakah hari itu dia cantik, walau sebenarnya sang suami ada didepan matanya.
Jika suami marah, diamlah, lalu ucapkan istigfar dan “Maafkanlah saya, maafkanlah suami saya dan ampunilah kami ya Allah” selanjutnya jika ada hal yang masih mengganjal dan ingin disampaikan, cari momen setelah tenang, lalu sampaikan intinya saja.
Terakhir belajarlah terkait watak dan bahasa cintanya


Banyak bab yang gw skip dari review ini, detailnya bisa kalian baca sendiri ya. Semoga membantu!
