Makanya Mikir Book Review – Berpikir untuk hidup lebih bahagia

Kebutuhan Terpenuhi = Kebahagiaan

Makanya mikir ini mengajak kita untuk melihat tujuan hidup sebagai usaha memenuhi kebutuhan agar kita merasa bahagia, yang artinya hal pertama yang harus kita ketahui adalah apa “kebutuhan” kita yang telah dipetakan oleh Maslow’s Hierarchy of Needs.

Kali ini gw mengajak kalian untuk stop, ambil secarik kertas, pena dan renungkanlah dari lima hierarki dibawah ini, dimanakah “kekosongan itu” selama ini?

  1. Apakah kita cukup beruntung untuk telah memenuhi kebutuhan fisiologis (sandang, pangan dan papan)?
  2. Kebutuhan akan rasa aman, apakah selama ini kita memiliki kestabilan emosi dan fisik, terhindar dari bahaya/ancaman fisik maupun psikis?
  3. Kebutuhan sosial, apakah kita diterima tanpa syarat di suatu komunitas tertentu?
  4. Rasa dihargai, apakah kita punya keseimbangan antara validasi internal dan eksternal yang baik?
  5. Apakah kita telah mencapai aktualisasi diri/potensi diri terbaik dan telah menemukan makna hidup?

Kenapa semua hal ini menjadi penting? Karena semua hal tersebut membuat kita menemukan tujuan dari hidup kita, sesederhana :

  • Penasaran akan hal baru sehingga membuat seseorang terus belajar
  • Senang membantu orang lain mencapai pengembangan diri terbaiknya
  • Tidak terpengaruh nilai atau persepsi dari orang lain
  • Membangun pondasi nilai diri yang berorientasi perkembangan, autonomi, pencapaian, koneksi dan kontribusi
  • Dapat memisahkan fakta dan emosi sehingga dapat memfilter/membuat kritik dengan valid yang bertujuan untuk memberikan kesempatan berkembang
  • Mempelajari aturan “main”, membantu tanpa menggurui, menghasilkan koneksi
  • Mempunyai persepsi yang positif terhadap diri, tidak tergantung terhadap validasi eksternal
  • Tidak terjebak di lingkungan yang tidak konsisten, sehingga “perubahan” adalah mode standby.

Merasa terancam?

Jeda, tarik napas, ini fakta atau perasaan, respon dengan bahas netral

Terjebak Diantara Idealis & Realis

Frederick Herzberg mengatakan bahwa kita bisa membenci serta mencintai pada saat yang bersamaan karena adanya faktor higiene atau merupakan faktor eksternal/benefit yang dihasilkan yang menjadi penentu kebencian dan faktor motivasi atau faktor kepuasan diri yang menjadi penentu kecintaan kita dalam melakukan hal tersebut.

Sehingga, bisa saja kita benci pekerjaan kita karena memberikan gaji yang tak seberapa tapi mencintai pekerjaannya karena memberikan kita ruang belajar yang memuaskan rasa penasaran kita. Inilah yang membuat kita termotivasi dan frustasi setiap senin pagi #wink yang mungkin selama ini kita hanya menentukan tujuan hidup berdasarkan salah satu faktor saja.

Kerangka Berpikir

Keputusan dihasilkan dari pemrosesan realitas (situasi yang ada/informasi yang diterima) dengan penalaran ilmiah, logika dan pengalaman kita sehingga menghasilkan kesimpulan, keputusan, pandangan atau sikap kita. Semua informasi terbagi dalam dua ranah yaitu realitas dan preferensi.

  • Ranah realitas bernilai benar (sesuai realitas) atau salah (tidak sesuai realitas)
  • Ranah preferensi bernilai baik atau buruk secara moral atau estetika, berdasarkan acuan yang ditentukan oleh individu atau kelompok.

Sehingga setiap dapat input/informasi dari luar cek dahulu apakah ini ranah realitas atau ranah preferensi. Bisa jadi kita berantem hanya karena beda cara memandang masalah, sereceh : Suami tak suka makanan yang disajikan karena rasanya, Istri jadi marah karena merasa tak dihargai. Padahal setelah realitasnya di cek, makanan ini terlalu asin, sehingga informasi yang diberikan Suami termasuk ranah realitas tapi Istri meresponnya dengan ranah preferensi.

Pola Pikir Ilmiah

Pola pikir ilmiah merupakan pendekatan pengujian dan pembuktian dengan eksperimen agar menghasilkan kebenaran tentang realitas. Pada setiap masalah yang diamati, carilah hipotesanya berupa dugaan penjelasan atau hubungan antar variabel lalu lakukan eksperimen berupa uji benar salahnya hipotesa yang dibuat agar menghasilkan analisa data untuk ditarik kesimpulannya.

Prinsip dalam pola pikir ilmiah adalah STOB

  1. Skeptisme, apa benar ya?
  2. Terbuka untuk salah dan dikoreksi, ada yang lebih benar nggak ya?
  3. Objektivitas, bias nggak ya?
  4. Bukti, apa buktinya ya?

Cost Benefit Analysis

Pertama-tama definisikan dahulu :

  1. Masalah adalah apapun yang menghambat kita mencapai tujuan
  2. Merugikan adalah kondisi yang menjauhkan dengan tujuan
  3. Menguntungkan adalah kondisi yang mendekatkan dengan tujuan

Hal ini memudahkan kita untuk menghasilkan benefit dari pada cost sehingga cost benefit analysis adalah kerangka berpikir yang mendekatkan kita ke tujuan dengan menjauhkan yang merugikan dan menarik yang menguntungkan.

Selanjutnya tentukan

  1. Threshold atau kriteria minimal yang harus ada dan kriteria yang tidak boleh ada
  2. Value, nilai etika/moral maupun keinginan yang dianut
  3. Probabilitas, terhadap resiko mulai dari tak ada risiko hingga risiko fatal

Bias Dalam Berpikir

  1. Survivorship bias, sesuatu tidak terjadi karena ada sampel yang tidak mengalami hal tersebut. Cek fakta statistiknya
  2. Ostrich bias, otak kita cenderung denial terhadap fakta yang tidak kita suka. Pelajari dan pahami untuk lebih mengenal fakta tersebut
  3. Hasty generalitation, menjadikan keadaan atau kenyataan dalam suatu kasus berlaku di semua kasus. Cek fakta statistiknya
  4. Causation fallacy, terjadinya kesalahan dalam menentukan penyebab suatu masalah tidak memakai data atau data yang ada kurang
  5. False dichotomy, menganggap hanya ada dua pilihan mutlak yang saling bertentangan satu sama lain
  6. False comparison, melakukan perbandingan yang tidak apple to apple
  7. Kesalahan menakar peluang, overestimate/underestimate menilai terhadap hasil yang diinginkan
  8. Sunk cost fallacy, terlanjur basah tidak segera berhenti/keluar padahal merugikan

Penentuan Prioritas

Fokus pada 20% yang penting untuk menghasilkan 80% alias fokus ke hal kecil tapi signifikan yang kita kerjakan untuk mendapatkan hasil yang berdampak besar.

Kecerdasan Sosial

Kita termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga tidak mungkin ada manusia yang melakukan sesuatu untuk orang lain karena 100% tidak ada untungnya untuk dia. Sehingga memikirkan keuntungan diri seperti “Apa yang bisa saya dapat dari ini?” adalah hal yang sangat wajar.

Selanjutnya kita juga wajib menanyakan keuntungan apa yang didapat dari orang lain melakukan sesuatu, untuk memahami dasar dari orang melakukan sesuatu atau dasar untuk berhenti melakukannya.

Insentif vs Disinsentif

Empati

Seringkali tujuan dan goal kita melibatkan orang lain dan kita wajib untuk memahami mereka, kita tahu bahwa manusia termotivasi oleh self interest, kita harus menggunakan insentif dan disinsentif yang tepat agar tidak menghasilkan hal yang menjauhkan kita dari goal sehingga kita harus tahu apa yang dianggap merugikan atau menguntungkan oleh orang lain dengan cara empati.

  1. Empati kognitif dengan memahami pikiran, perasaan dan emosi oleh pihak lain secara kognitif
  2. Empati emosional dengan ikut merasakan apa yang dirasakan
  3. Empati belas kasih dengan memilih tindakan yang mengurangi penderitaan atau menambah kebahagiaan pihak lain

Dalam melakukan empati untuk orang lain, gunakan standar orang yang kita beri empati

Membedakan Orang Bodoh dari Orang Jahat

Terkadang orang bodoh lebih berbahaya dari orang jahat, karena kita tidak bisa cegah kebodohannya yang akan merugikan dirinya dan kita. Berbeda dengan orang jahat yang lebih bisa di prediksi karena tujuannya untuk menguntungkan dirinya.

Lingkunganmu Menentukan Kualitas Dirimu

Pilihlah orang dekatmu yang memiliki

  1. Nilai
    • Kesamaan nilai yang dianut
  2. Karakter
    • Intensi/tujuan yang sejalan denganmu
    • Integritas yang nilai, pemikiran, ucapan dan tindakan selaras denganmu
    • Nyambung
  3. Kompetensi
    • Kemampuan berpikir, mengambil keputusan dan mengerjakan sesuatu sesuai standarmu
    • Menghasilkan karya nyata

Terakhir, Makanya Mikir!

Tags:

2 comments

  1. sekarang aku lagi baca buku ini dan aku lagi nyoba untuk benar benar menyerap semua ilmunya dengan setelah selesai baca 1 chapter lalu catat insight apa yang aku dapat didalam chapter tersebut dan 2 hari yang lalu (tanggal 28 maret 2026) aku sempat stagnant di chapter 3. karena menurut aku dichapter ini aku sama sekali gak paham dengan niat penulisnya. mungkin karena aku tipikal orang yang mempunyai pikir yang sudah ada didalam chapter ini dan aku berharap bangat bahwa tiap chapter didalam buku ini wajib ada ilmu pola pikir itu worth it buat aku. (tanggal 29 dan 30 maret gak sempat baca karena lagi sakit kepala jadi aku ngerasa lebih baik skip baca buku dulu sampai gak sakit kepala). dan setelah dapat insight chapter 3 yang menurut aku wort it nya di bagian terakhir yaitu “Prinsip dalam pola pikir ilmiah adalah STOB” dan kutipan dari Adam Grant yaitu “keyakinan harus mengikuti fakta, bukan mendahuluinya. Apa yang ingin kamu percayai seharusnya tidak mendikte apa yang kamu percayai. Kunci belajar seumur hidup adalah menghargai rasa ingin tahu lebih daripada rasa Yakin”
    Dan jujur… aku lagi dichapter 4 dan aku heran kenapa chapter 4 dan 5 dipisah jadi 2 chapter? kenapa gak dijadiin 1 saja?

    1. Terima kasih sudah bagi pengalaman kamu baca buku ini
      Aku sendiri sempat kesulitan mencari benang merah antar chapternya, kadang baru mengerti setelah lewat 1-2 chapter
      Sehingga review buku yang ku buat juga semerta2 untuk merangkum hal yang memudahkan aku untuk “membaca” kembali, terima kasih sudah membaca reviewku
      Salam kenal ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*