Mungkin Taiwan kurang populer untuk menjadi destinasi wisata, kita sendiri hanya mengenal negara ini dari series meteor garden dan bagi sebagian yang lain, negara ini menjadi tempat mereka mencari nafkah. Sampai suatu hari, kita memutuskan untuk liburan ke Taiwan begitu iseng buka sky scanner dan harga tiket pesawat PP 4 juta rupiah per orangnya, terlebih China Airlines termasuk maskapai full-service.
Tiket sudah dapat, selanjutnya susun itinerary selama 7 hari di Taiwan termasuk hotel dan akomodasi lainnya. Satu hal yang menjadi blunder, kita kira Taiwan negara bebas visa untuk pemegang paspor Indonesia. Ternyata setelah baca ulang di website imigrasi taiwan, bebas visa ini berlaku untuk WNI yang sudah pernah mengajukan visa untuk mengunjungi negara tertentu seperti Jepang ataupun Eropa. Sedangkan kita belum pernah sama sekali ke negara-negara tersebut.
Alhasil, nambah lagi nih satu kerjaan kita yaitu “Buat Visa Taiwan”, nasib jadi WNI. Ini pertama kalinya kita harus mengurus pembuatan visa dan ternyata syaratnya banyak banget, karena sibuk akhirnya kita menyerahkan pembuatan visa ini ke Travel Agent Bandung aja. Singkat cerita, visa sudah dapat, itinerary lengkap dan akomodasi selesai di booking. Oiya biar cengli, kalian bisa bandingkan harga pesawat di Traveloka dan Trip, kalau hotel di Agoda dan Trip, kalau tiket wisata/atraksi di Tiket, Klook atau Trip.
Artikel kali ini, akan mengangkat kesan dan pelajaran yang kita dapatkan selama traveling di Taiwan, kalau kemana aja dan seperti apa tempatnya, kalian bisa liat di itinerary, instagram atau website resmi Taiwan Tourism ya. Mari kita mulai! Siapkan passport, tiket pesawat PP, hotel, visa dan itinerary, lalu apa lagi ya?
Credit Card, awalnya gw anti banget sama credit card mengingat takut riba, tapi setelah banyak kesempatan untuk liburan keluar negeri, CC is a must!. Bagaimana kalau kita ganti cara pandanganya? Ini kaya alat bayar aja, sama kaya gopay/ovo atau apapun itu, insya Allah selalu bisa bayar biar ngk berbunga. CC bantu banget untuk kemudahan transaksi, apalagi kalau ada refund tiket atau segampang tinggal tap CC (visa/mastercard) saat naik MRT atau bus. Ditambah kalau kalian ke China, CC ini akan link ke alipay kalian yang merupakan aplikasi ter-dewa dari segala macam aplikasi yang ada di China. Tunggu artikelnya ya.
Roaming (read: telkomsel) atau beli E-sim di trip.com, bandingkan aja harganya kadang murah/mahalnya tergantung negara
Pastikan mengisi immigration arrival card saat masih di ruang tunggu sebelum pesawat kalian take off, biar saat sampai negara tujuan, langsung antri di imigrasi.
Pernah nggak merasa setelah liburan malah yang “kerasa” hal-hal negatifnya? Mungkin karena belum menemukan referensi liburan “financial-based travel” dan “interest-based travel” kalian. Preferensi interest-based travel ini sebenarnya baru kita temukan setelah trip ke Jepang, padahal sudah banyak liburan kita di Indonesia tapi mungkin karena masih satu tema jadi belum punya pembanding.
Apa sih sebenarnya, interest-based travel? Dan bedanya apa dengan financial one? Interest-based travel segampang kalau kalian liburan sukanya ngapain? Dengan memahami bahwa Gwen lebih suka liburan yang ada pengalaman atraksinya (kaya snorkeling, hiking, cycling atau bahkan sekedar keliling naik MRT/Bus) dan pergi ke tempat-tempat yang punya “cerita dan sejarah” (kaya candi, bangunan bersejarah atau pertunjukan dengan alur cerita) plus wajib menyempatkan waktu untuk beli pakaian daerah dan kalau beruntung dapet tas vintage juga. Serta Salman senang liburan ke alam yang kalau kebetulan liburan ke kota, dia akan memilih pergi ke kawasan yang laid back untuk santai di kedai kopi atau teh. Akhirnya kita jadi tahu, tempat-tempat apa yang akan kita datangi dan tidak mengutamakan rekomendasi wisata selain yang kita sukai untuk masuk ke dalam itinerary kita.

Sedangkan financial-based travel menentukan seberapa “nyaman” liburan kalian. Kita tipe budget traveler, cari maskapai full service tapi diskon, hotel nyaman dekat MRT, mengutamakan transportasi publik, makan apa aja yang penting halal dan terkadang YOLO nyari lokasi-lokasi liburan like locals.
Hal pertama yang kita lakukan setelah sampai adalah withdrawal money from ATM in Airport & beli EZ card untuk kemudahan bayar MRT dan Bus dengan design yang lucu-lucu, ada yang gantungan kunci hingga plushy cari aja di 7-11 terdekat, di Taipei juga punya banyak sevel bertema loh.
Oiya masuk negara ini langsung di sambut dengan undian berhadiah “Taiwan Lucky Land“, setiap tiket pesawat kita bisa ditukarkan dengan 1 kesempatan untuk memenangkan hadiah berupa uang dalam bentuk EZ card sebesar 5.000 NTD, tidak cuman itu receipt belanjaan juga bisa ditukarkan dengan kesempatan 1 undian hadiah, seru ya. Di negara ini kita banyak menggunakan Klook untuk beli tiket HSR/kereta cepat (klook punya promo buy 1 get 1 jika beli hari ini untuk pergi besok, tapi agak tricky karena appsnya kurang user friendly) dan juga tiket wisata kapal saat di Sun Moon Lake yang pasti jauh lebih murah daripada beli langsung di counter.
Menurut gw, Taiwan negara yang vibesnya berhenti di 90an, kalau kalian keliling kota Taipei, kalian akan menemukan banyak gedung tinggi menjulang di sekitar kawasan Taipei 101, Chiang Kai Shek Memorial Hall dan sisanya ruko dimana-mana persis kota-kota pecinan di Indonesia. Lucunya, kota ini menemukan keselarasan dalam chaos-nya dan kita tidak merasa kota ini berantakan. Apa karena tidak ada kabel listrik dan kemacetan ya?
Malam hari di area Ximending menjadi favorit kita. Kata orang sih, area ini tuh Shibuya-nya Taiwan. Semua tumpek blek mulai dari makanan, minuman, toko sepatu, baju, apapun ada disini. Taipei terkenal akan kulinernya, lebih dari belasan night market ada disini, tapi kita berdua malah lebih sering makan di Sevel karena cari makanan halal saat itu cukup sulit mengingat kita kesana mendekati tanggalan chinesse new year jadi banyak resto halal tutup, selain itu bau dari minyak dan rempah di sepanjang jalan Taiwan ituloh khas banget. Tapi tenang, kita malah makan warteg disini, 200 NTD/orang alias 100rb rupiah, fancy nggak tuh? wkwk. Kalian bisa search “rendang/bakso” tempatnya dekat banget dari Taipei Main Station, kalian bisa masuk dan turun tangga dari pintu Z9 menuju MRT dan menemukan belasan resto Indonesia di sepanjang jalan bawah tanah ini.
Berjarak 12 stasiun MRT dari Taipei, kalian bisa menemukan hot spring, yes pemandian air panas di tengah kota metropolitan. Turunlah di Xin Beitou MRT, jalan sedikit ke arah museum kereta api yang di depannya ada shuttle bus khusus untuk mengantarkan kalian ke hotel yang sudah pasti ada onsen disetiap kamarnya. Pas banget kita datang pas musim dingin, walau hanya di ujung utara pulau ini yang bersalju, udara kala itu cukup dingin di 8 derajat pas banget bisa berendam air hangat.
Bisa bayangin whoosh menghubungkan ujung banten hingga banyuwangi? Itulah Taiwan, ke Taichung naik kereta cepat kurang lebih 45 menit saja. Kota ini lebih hangat walau di musim dingin, banyak cafe viral di dalam ruko dan juga ada danau besar dekat pegunungan. Kita juga sempat ke tempat lahirnya minuman terviral, boba milk tea. Banyak juga bangunan peninggalan jepang yang disulap menjadi cafe dan tempat nongkrong.
Cultural experience lain yang tidak akan kita lewatkan selain pergi ke museum yaitu berbelanja di supermarket, apalagi bisa menemukan toko hidden gem dan murah. Terakhir, percayalah kalian bisa banget survive di negara ini, nggak usah bingung mau naik apa, buka google maps, kalian langsung bisa pergi dari ujung ke ujung dengan transportasi publik mereka. Ibarat kalian mau ke Ciwidey dari Bandung, kalian tinggal hop in to bus, dua jam kemudian sampai. Kira-kira seperti itulah analogi dari Taipei ke Juifen (yes, tea house terkenal karena mirip di film Ghibli itu).