Setelah berkelana, menyelami dan mencari ilmu keuangan selama 16 tahun lamanya akhirnya berkesempatan untuk menuangkannya dalam tulisan. Artikel ini akan menjawab apa saja pengalaman yang membuat gw "cukup" pandai dalam mengatur keuangan.

Disclaimer, tulisan ini murni pengalaman pribadi hasil cari ilmu sana sini serta trial and error setiap bulannya mungkin bisa jadi bahan referensi untuk kalian, walau bisa juga tidak berhasil dikalian. Enjoy!

Cash Flow

Sejak usia 12 tahun, orangtua memutuskan untuk memberikan ATM yang berisi segala kebutuhan selama sebulan (seperti sistem gajian). Gaji pertama gw sebesar 1,5 jt Rupiah dan termasuk cukup untuk ukuran anak SMP ditahun 2004 (jangan lupa, setting hidup gw di Jakarta ya). Singkatnya, gaji tersebut sudah berisi uang sekolah, jajan, les, dan transport selama sebulan penuh.

Sebelum memutuskan berapa besarannya mereka berdiskusi dahulu dengan gw, sembari mengisyaratkan bahwa tidak ada uang tambahan ditengah-tengah bulan. Ada saat dimana 1-2 bulan awal keuangan gw MINUS alhasil harus muter otak agar bisa bertahan sampai akhir bulan. Disaat itu gw sempat jualan aksesoris hingga tas, demi bisa beli barang yang termasuk dalam kategori "keinginan" agar tidak menggangu cash flow, tapi sayangnya selepas keinginan tercapai selesai juga jualannya (ketauankan cerdasnya).

Dimasa ini, gw banyak belajar mengenai cara memandang uang dan mengatur cash flow. Banyak hal sudah dicoba mulai dari amplop trick, withdraw money only on Monday, catat sedetail mungkin, hingga catat budgetnya saja. Akhirnya gw menemukan cara paling efektif yaitu mempunyai beberapa kartu ATM dengan kekhususan masing-masing yang didahului dengan perencanaan pengeluaran dan catat detail realisasinya (cukup sampai sini, karena waktu itu belum kenal tuh dengan teori financial planning lagi pula saat itu tujuannya hanya sebatas bisa "hidup" sampai tanggal gajian selanjutnya).

Life Style

Beranjak SMA, gaji gw tetap nggak naik hingga lulus ditahun 2010 (bayangin tiap tahunnya, uang gw deflasi). Lucunya, entah karena kebutuhan yang tak pernah naik atau mungkin karena pandai mengaturnya (i doubt it). Saat SMA ini banyak momen dimana ngerasa "sedih" karena nggak bisa punya barang yang diinginkan terlebih udah mulai kenal sama trend dan juga tuntutan sosial di sekolah. Sehingga pelajaran berharga yang gw petik pada masa ini adalah mengenai hidup sesuai kemampuan dan prioritaskan kebutuhan.

Skala Prioritas

Memasuki jaman kuliah Alhamdulillah gajinya naik 2x lipat. Kosan daerah kampus tuh mahal sekitaran 2 jt perbulannya, sedangkan kebutuhan bertambah terlebih buku ajar kedokteran mahal banget bisa sampai jutaan (satu buku loh). Tapi gw punya trik, karena prinsip ilmu kedokteran adalah anatomi, fisiologi dan farmakologi jadi 3 buku utama ini yang dibeli selebihnya pinjam atau download PDF-nya. Ada 1 buku fisiologi pengarangnya Guyton karena nggak kebeli, gw siasati dengan pinjem sama perpus kecil yang letaknya di basement kampus selama 4 tahun lamanya (thanks to Pak Sarikun).  

Demi mencegah besar pasak daripada tiang, gw cari kosan yang agak jauh dari kampus. Harganya 1,1jt walau untuk beberapa orang ini termasuk mahal tapi percayalah ini harga kosan termurah sekitar kampus. Jujur gw banyak dibantu sama orang-orang baik disekitar salah satunya Anggi dan Nadia yang nebengin kampus-kosan selama kuliah dulu.

Apa masih nge-mall? Jelaslah, biasanya udah makan duluan dikosan biar hemat tapi kalau makanpun paling seringnya sih ke Sushi Tei. Tapi untuk urusan belanja, gw nggak beli kalau nggak butuh-butuh amat.

Kalau duitnya habis, terus gimana? Ada malaikat kecil penyelamat yang selalu siap sedia meminjamkan uang, adekku tersayang dodetoz wkwk

Habit

Tibalah dimasa koas tahun 2014, saat ini gaji gw sudah setara UMR Jakarta yang nggak jauh beda dengan gaji dokter internship 2017. Dengan gaji sebesar itu jelas memberikan angin surga untuk gw, terlebih biaya hidup di Jawa Tengah terbilang murah.

Tidak banyak yang berubah dari pengaturan keuangan, life-style, bahkan skala prioritas gw. Satu sih yang nambah yaitu tabungan, Alhamdulillah. Gw juga merasa beruntung dengan segala pengalaman tersebut karena saat awal memulai karir dengan "gaji freshgrad"pun tidak terbilang sulit. Terlebih, menabung sudah menjadi kebiasaan gw setiap bulannya.

Value the money as money

Lika-liku keuangan gw mengajari tentang memandang uang sebagai alat tukar sesuai dengan tujuan awalnya diciptakan. Satu hal yang disadari, gw jauh lebih senang menukarnya dengan pengalaman daripada barang.

Last, Love you mama bapak ternyata ada makna dibalik pelitnya kalian #wkwk