Hari kedua di Gili Trawangan, setelah hari sebelumya kami berdua jalan kaki dari pelabuhan hingga Hotel Lumi yang diakhiri dengan baju basah dan kaki pegal semua. Pagi harinya setelah mandi dan sarapan, kami berdua sudah bersiap untuk pergi Snorkeling.

Kami mendapatkan paket snorkeling dari bapak-bapak yang ada di Cerita bagian 1. Menuju tempat snorkelingpun kami menggunakan sepeda yang sudah disediakan oleh pihak Hotel. Ya, kami mendapatkan fasilitas sepeda gratis selama menginap di Hotel Lumi. Meeting point untuk snorkeling kali ini berada di dekat pelabuhan, tepatnya di dermaga depan night market.

Sambil menunggu peserta lain yang masih belum datang, kami berdua menyempatkan untuk membeli minuman dan roti yang gunanya untuk memancing ikan-ikan datang, agar saat foto nanti jadi lebih bagus. Paket sharing boat snorkeling untuk public ini biasanya akan diisi hingga sekitar belasan bahkan bisa sampai 20 orang di hari normal (bukan saat pandemi).

Beruntungnya, saat semua peserta sudah kumpul ternyata hanya ada 5 orang saja termasuk kami berdua, bayar murah malah dapat paket private snorkeling. Kami menaiki kapal yang dipandu oleh 2 bapak-bapak menyusuri ketiga spot snorkeling selama kurang lebih 3 jam. Untuk fasilitas paket snorkeling sendiri sebenernya ada 2 macam, yang pertama paket reguler yang hanya dapat life jacket, pelampung, dan snorkle. Paket kedua adalah paket snorkeling + dokumentasi, bedanya hanya dengan tambahan kamera underwater (GoPro).

Gue saranin untuk membawa snorkel sendiri, terlebih untuk para newbie yang masih belum jago banget berenang. Snorkel jenis full mask ini akan sangat memudahkan untuk bernapas karena tanpa selang snorkle yang harus di masukkan ke mulut. Selain itu sangat jarang berembun, kemasukan air di bagian mata apalagi tanpa rasa sesak karena tidak terbiasa bernapas melalui mulut.

Full Mask Snorkel

Spot snorkeling yang kami datangi ada tiga spot, lokasinya berada di Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan sendiri. Spot yang paling rame dan paling seru berada di Gili Meno, disitu terdapat sekumpulan patung yang membentuk lingkaran. Biasanya orang-orang yang udah jago renangnya akan freedive ke tengah-tengah lingkaran dan difoto di patung tersebut. Seru banget pokoknya. Spot ini akan ramai dengan turis mancanegara karena hal ini adalah ikon dari snorkeling saat ke tiga Gili.

Di Gili Air, biasanya akan diajak ke spot sarang penyu. Kalau lagi beruntung bisa dapat foto penyu yang lagi naik ke permukaan laut atau berenang bebas di lautan. Di spot ini kedalaman airnya sekitar 10-15 meter dan para diver akan menyelam untuk melihat penyu di sarangnya secara langsung.

Spot terakhir berada di sekitar Gili Trawangan, menurut gue titik terakhir ini malah kurang bagus, mungkin karena cuaca yang sudah semakin siang sehingga ombaknya juga semakin besar. Akhirnya kurang bisa menikmati suasana bawah lautnya. Selama snorkeling ini kami berdua nebeng foto dengan 3 orang peserta lainnya yang ternyata beli paket dengan kamera underwater. Memang trip ke Gili ini penuh keberuntungan hahaha...

Selesai snorkeling, kami berlima makan siang dulu di warung bakso depan dermaga. Satu-satunya warung yang masih buka saat itu, selama pandemi ini banyak restoran yang tutup hingga bangkrut. Di jalan pulang menuju hotel, kami memutuskan untuk memilih menggunakan jalur berbeda dari jalur saat berangkat. Jalur ini akan mengelilingi pulau Gili Trawangan.

Sambil gowes santai, kami menyusuri jalanan dengan hamparan pasir pantai. Di rute ini, jalur yang terawat hanya disekitar pelabuhan selebihnya masih berupa tanah bercampur pasir atau paving yang sudah rusak. Kurang lebih butuh waktu selama 30 menit untuk sampai di hotel. Setelah menaruh barang dan bersih-bersih, kami menghabiskan waktu sore itu dengan berenang di Skinny Deep infinity pool hingga matahari terbenam.