Pengalaman liburan ini mungkin sangat berbeda dengan pengalaman sebelumnya dikarenakan perjalanan ini kami lakukan disaat Covid-19 melanda dunia. Awalnya kami merencanakan untuk pergi ke Gili Trawangan pada bulan Maret 2020. Saat itu semua akomodasi dari hotel, pesawat, hingga shuttle ke bandara sudah dibayar dan tinggal berangkat saja.

Mendadak santer kabar di Jakarta terdapat pasien terkonfirmasi Covid-19, yang berdampak penerbangan dari bandara Soekarno-Hatta ditutup. Perasaan kecewa waktu itu pasti ada, terlebih bercampur perasaan takut. Semua orang waktu itu panik, rumah sakit kewalahan karena belum ada protokol yang jelas dari pemerintah. Bahkan beberapa harga barang seperti hand sanitizer dan masker melambung tinggi tidak karuan.

Balik ke cerita awal. Singkatnya, kami memutuskan untuk cancel semua akomodasi. Hotel reschedule max 1 tahun, pesawat refund walau tidak 100% tapi sayangnya shuttle bus harus hangus gitu aja.

Akhirnya di bulan November 2020 kami merasa cukup aman untuk liburan, walau masih was-was. Dimulai dengan keberangkatan dari Bandung bermodal carier dan backpack, kami naik travel Red White Star jam 2 pagi dengan harapan paling telat sampai bandara jam 6 mengingat pesawat kami akan take-off jam 9 pagi.  Ternyata diluar dugaan jam 4 subuh kami sudah tiba di bandara.

Kalau diingat-ingat, awalnya kami ingin perjalanan ini ala-ala backpacker tapi setelah dipikir-pikir ternyata dari segi biaya bedanya tidak terlalu jauh. Bayangin capek dan ribetnya kalau ini beneran kami lakuin, terbang ke Lombok lanjut naik bus ke Kota Mataram disambung dengan angkutan umum ke Pelabuhan Bangsal diakhiri dengan public boat menuju Pulai Gili Trawangan, apa nggak buang waktu?

Akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalur yang cepat, nyaman, aman dan harga lumayan yaitu private shuttle dari bandara ke pelabuhan.

Pagi itu cuaca cerah dan selama penerbaangan pun lancar, kami menggunakan maskapai AirAsia dan tiba di lombok tepat jam 12 WITA. Sesampainya di Lombok, sudah menunggu pak Arya (our private shuttle car) yang akan mengantarkan ke Pelabuhan Bangsal, sambil membawa secarik kertas HVS dengan tulisan "Salman Farosi" 😂

Pak Arya

Setibanya di Lombok, langit mulai mendung. Rencana awalnya kami akan mampir makan dulu di daerah Mataram, namun ditengah jalan cuaca mendadak hujan deras disertai badai, kami pun mulai was-was begitu juga dengan Pak Arya. Dia bercerita beberapa hari yang lalu ada pohon tumbang di jalan yang kami lalui ini.

Belum ada 15 menit setelah Pak Arya bercerita, tiba-tiba jalan menjadi macet dikarenakan ada pohon tumbang. Beruntungnya pohon itu sudah tumbang sebelum kami lewat, sehingga semua aman terkendali, Alhamdulillah. Akhirnya Pak Arya memutuskan untuk memakai jalur alternatif melewati sisi barat mataram sepanjang pesisir pantai untuk mengurangi resiko terjadi kejadian yang sama dan makan siang di restoran ayam taliwang yang sepertinya memang sudah menjadi langganannya driver-driver shuttle car.

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Bangsal melewati Senggigi. Sepanjang jalan Pak Arya bercerita tentang pengalamannya waktu terjadi Gempa Lombok Juli 2018, dimana banyak orang kehilangan rumah dan harus memulai dari awal lagi. Cerita-cerita mirisnya kejadian waktu itu yang berdampak ke bidang pariwisata Lombok.

Kira-kira 5KM sebelum sampai di Pelabuhan Bangsal, Pak Arya menawarkan apakah kami mau menggunakan speed boat atau tetap akan pakai public boat. Disini dia menawarkan kalau dengan kenalannya bisa lebih murah 60 ribu dengan hanya membayar 240 ribu untuk berdua. Menurut dia, disituasi seperti ini belum banyak turis yang akan menyebrang, sehingga ada kemungkinan kapal engga berangkat. Kami menolak tawaran itu dan tetap yakin dengan rencana awal menggunakan public boat.

Sesampainya di pelabuhan Bangsal tepat jam 15.30 WITA, public boat masih tersedia dan setelah menunggu kurang lebih 15 menit akhirnya kapal berangkat. Syarat kapal ini berangkat adalah penumpangnya sebanyak 40 orang. Penyeberangan ke Gili Trawangan memakan waktu sekitar 30 menit. Setelah sampaipun kami sudah disambut dengan banyak orang yang mulai menawarkan berbagai macam jasa, mulai dari sewa sepeda, paket snorkeling, hotel, hingga paket snorkeling.

Di pulau ini transportasi yang diperbolehkan hanya sepeda dan bendi (delman). Walau jarak antara pelabuhan dan hotel Lumi tempat kami menginap sekitar 2,5 KM di pesisir barat pulau akan tetapi sore itu kami memutuskan untuk jalan kaki. Hujan gerimis membuat kami malah bersemangat untuk mengeksplore jalur ke hotel kami dengan jalan kaki. Melewati jalan pintas dan sempet nyasar juga karena cuma modal google maps yang lebih sering error, tapi akhirnya sampai juga di Hotel tepat jam 5 sore, dengan kondisi pakaian lumayan basah dan celana berlumpur.

Untuk rincian biaya di cerita bagian 1 ini bisa dilihat dibawah ini ya:

Akomodasi Fasilitas Harga
Travel Red White Star Primajasa BDG - CGK Free air mineral Rp 175.000 /orang
AirAsia CGK - LOP Free Bagasi 15kg Rp 550.000 /orang
Private Shuttle Bandara-Pelabuhan Mobil Ayla + Sopir Rp 125.000 /orang
Makan Ayam Taliwang + Air Mineral Enak Ayamnyaa Rp 60.000 /orang
Public Boat Bangsal - Gili Minimal 40 orang Rp 15.000 /orang
Sewa Sepeda opsional Rp 50.000 /hari
Sewa Bendi opsional, tarif tergantung jarak Rp 50.000 - 100.000 /trip