Diawali sebuah cerita minggu pagi di sebuah cafe bersama seorang teman kuliah S2, dia bercerita tentang pengalamannya berinteraksi dengan koleganya di pekerjaanya saat ini. Pengalaman yang dia ceritakan adalah bagaimana seorang atasannya dapat membawa diri dalam dunia pekerjaan secara professional.

Si A adalah direct manager dari si B, dalam pekerjaan sehari-hari B mempunyai beberapa teman satu tim. Dalam tim itu mereka mempunyai karakter yang masing-masing berbeda, ada yang santai, sensitif, dan deadliners garis keras. Si A ini sebagai manager dia mempunyai treatment tersendiri untuk setiap individunya. Dia menerapkan cara komunikasi yang berbeda berdasarkan dengan karakter anggota timnya tersebut dan itu terbukti efektif.

Pernah suatu ketika, si A mendapatkan pressure pekerjaan dari sang direktur. Sebagai seorang manager, si A dapat menghandle pressure tersebut tanpa langsung memberikannya langsung ke timnya. Alih-alih langsung meneruskan pressurenya, si A pada waktu itu langsung mengumpulkan semua anggota timnya termasuk si B. Apa yang dilakukan si A kemudian?

A langsung mendiskusikan mengenai posisinya saat ini, bahwa sebagai manager dia juga harus perform di depan direkturnya dengan mengejar target yang diberikan dan juga sebagai manager dia harus bisa membagi pressure tersebut kepada timnya. Pada intinya disaat ada pressure seperti ini A bisa meyakinkan timnya bahwa pressure tersebut bukan merupakan tanggung jawab sebuah individu tetapi adalah tanggung jawab satu tim.

Bagaimana cara A meyakinkan anggota timnya? Dia menjelaskan bahwa jika individu di timnya mempunyai performa yang bagus, maka tentu dia bisa ada alasan untuk memperjuangkan bonus ataupun penilaian mereka di depan direktur. Dalam sebuah kondisi misalnya ternyata ada salah satu individu yang nilainya kurang baik. Sebagai bagian dari tim A, si B merasa bahwa apa yang dilakukan A ini adalah sebuah win-win solution.

Disisi B sendiri, dia dengan senang hati mengerjakan target tersebut, karena dia merasa semua transparan dan sudah pada tempatnya. Dalam cerita lain, suatu hari si B ternyata tidak bisa memenuhi target yang telah diberikan si A . Kondisinya si A sebelumnya telah memberikan briefing secara jelas, namun memang si B tidak bisa mencapai itu. Dalam morning meeeting, si A langsung memberikan teguran keras ("Marah-marah") ke si B.

Pada siang harinya saat makan siang, si A menghampiri si B dan makan bareng satu meja, dan membuka obrolan seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Apakah si B masih kesal? Ya, si B tetap kesal tapi masih dalam batas wajar. Karena ketika si A mulai memimpin tim itu dia sudah mengingatkan bahwa apa yang terjadi di pekerjaan ya itu murni soal pekerjaan, diluar itu dia hanyalah orang bisa yang bisa berteman dengan siapapun.

Cerita ini adalah salah satu contoh bagaimana profesionalisme di pekerjaan harus dilakukan. Ada beberapa point dalam belajar professionalisme di pekerjaan yang perlu dipahami:

Profesionalism
  1. Communication (Komunikasi)
    Kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, transparan, dan menyampaikan ide-ide secara efektif
  2. Teamwork (Kerjasama)
    Kemampuan memimpin dan menyumbang kontribusi untuk membuat tim yang berperforma tinggi
  3. Critical Thinking (Berpikir Kritis)
    Bisa ikut andil dalam  memecahkan masalah yang kompleks
  4. Ethic (Etika)
    Menjaga etika dalam hal budaya kerja, conflict of interest, ego dan kejujuran.
  5. Hummaness (Rasa Kemanusiaan)
    Menghormati nilai-nilai orang lain dan membuat orang lain bernilai dalam hal kemanusiaan.