Oktober 2019, Salman akhirnya wisuda dan dimulailah pertanyaan "Gwendry, kapan mau sekolah?". Hampir setiap minggu kalimat ini terlontar seperti kaset rusak yang tanpa sengaja terputar ulang. "Tahun depan" jawab gw asal, mengingat masih ada ikatan dinas di RS plus gw sangat mencintai kerjaan gw.

Gw tidak terlalu ambil pusing sampai akhirnya 2020 didepan mata, yep gw beneran harus sekolah. Termotivasi dengan frasa yang diperkenalkan oleh salah satu teman saat Internship di Boyolali Mas Mando.

Investasi terbaik adalah meningkatkan value diri

Dan akhirnya masa pencarian identitas gw berlanjut, Dokter Spesialis atau Magister?

Decision Making Process

Problem Recognition

To cut long story short, permasalahan utamanya adalah

  1. Mau sekolah apa? Jurusan apa? Universitasnya?
  2. Yakin?

Menurut gw setiap ketidakyakinan atas keputusan yang diambil ujung-ujungnya masalah ambiguitas karena menurut suami/istri, mama, papa, adek, kaka, oma, opa, tetangga bahkan alien di planet Proxima Centauri c ada hal yang lebih baik, padahal ini hidup kita.

Berdasarkan pengalaman kerabat, orangtuanya mendesak untuk kuliah di USU mengikuti kemauan mereka dengan berdalih bahwa ia tidak yakin jikalau anaknya mampu keterima di UI. Padahal setelah ditelaah lebih lanjut, tujuan utama dari orangtuanya hanyalah harus sekolah spesialis, kenapa tidak memakai pendekatan yang berbeda? Alih-alih mengambil shortcut agar keterima spesialis. Bukankah ini toxic? No wonders, jaman sekarang ilmu parenting sangat digembar-gemborkan.

Di sisi lain, manusia cenderung mengikuti "kata orang" agar jika salah, ada orang yang bisa dikambing hitamkan. Ternyata semua ini hanyalah masalah sejauh mana siap akan konsekuensi atas tanggung jawab yang dipilih.

Information Searched

Pencarian pertama yang dilakukan adalah pencarian jalan yang tepat dengan sholat hajat minta petunjuk terbaik menurutNya.

Jika ini baik untukku, untuk agamaku, untuk kehidupanku, kehidupan sekarang, kehidupan yang akan datang, baik untuk duniaku, baik pula untuk akhiratku, baik untuk keluargaku, maka dekatkanlah untukku, mudahkanlah jalan ku. Tapi jika tidak, jauhkanlah.

Walaupun doa ini umumnya dipakai untuk mencari teman hidup, tapi menurut gw ini doa yang paling komperhensif untuk menentukan pilihan. Selain itu gw juga sangat percaya kalau Allah akan mengabulkan doa kita, jadi berhati-hatilah dalam berdoa dan yang tidak bisa gw jelaskan secara logika adalah takdir yang diikuti dengan rasa yakin di hati.

Selanjutnya barulah mbah google penyelamat gw. Pertanyaan pertama, spesialis atau master? Butuh 2 tahun untuk menyadari bahwa pertanyaan ini akan jauh lebih gampang untuk dijawab setelah mengetahui underyling reasons yang membuat gw tidak bisa melangkah. Apa yang terlintas pertama dikepala kalian? Yes, mostly itu jawabannya easy right #wink. Wait, don't be so denial. HAHA

Awalnya gw sudah menentukan almamaternya tinggal cari jurusannya saja dan jelas ini salah besar. Jurusan kuliah jauh jauh lebih penting karena setelah lulus itulah profesi dan karir kedepannya, lalu pilihlah almamater terbaik dibidang tersebut.

Alternatives

Banyak yang menyarankan untuk menuliskan pros & cons akan setiap alternatifnya, jujur gw sendiri jauh lebih suka menuliskan cons dari masing-masing pilihan karena akan jauh lebih objektif. Biasanya diakhir dari pencarian, gw akan tetap meminta kritik saran keluarga karena gw menganut paham

Ridho suami/istri, mama dan papa adalah ridho Allah

And lucky me they try to be as objective as they can.

Implemention

Last, kenal dengan SMARTER Goals kan? Good luck for us!