Tak sedikit yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan, banyak juga yang bertanya apa hal yang harus dipersiapkan atau tanpa ragu melontarkan "Kenapa memutuskan menikah?","Apa yang buat kita yakin dia orang yang tepat?", "Kapan saat yang tepat?", "Kalau tidak menikah, tidak apa-apakan?" serta banyak rentetan pertanyaan lain yang dijawab dengan "It's totally up to you and when you know, you know". Jelas jawaban ini tidak memberikan kepuasan untuk si penanya, so let me elaborate here. Enjoy!

Get To Know Yourself

Manusia itu dinamis sehingga memahami diri sendiri adalah pekerjaan sampai mati. Kalian bisa lihatkan perbedaan dan perkembangan sifat/kesukaan/prioritas diri sekarang dengan sepuluh tahun yang lalu berbeda? Cari tahu dan update pengetahuan tentang diri kalian hingga momen dimana perkataan orang lain tidak akan menimbulkan keraguan, terutama saat ada yang berkata " Lo tuh orangnya pelit ya" atau "Lo tuh susah dikasih tahu" atau kata apapun yang mereka lontarkan. Remember, don't take it personal if they don't know you personally walau kadang tak jarang keluarga atau kerabat yang berkata demikian. You see the point in here right?

Copping Your Inner Child Wound

Selama masa pandemi yang menyebabkan kita lebih aware sama mental health, topik Inner Child Wound merebak, dulu gw tahunya cuman "berdamai" dengan trauma masa kecil, ternyata hal tersebut ada istilah kerennya. Inner child wound tidak hanya diderita sama anak-anak yang keluarganya "bubar grak", tidak sedikit keluarga yang utuh tapi tidak harmonis juga meninggalkan inner child wound.

Cari tahu deh, googling dan jika perlu konsultasi ke psikolog/psikiater, jangan self diagnose berbahaya. Dulu pas gw kuliah, konsultasi tiga kali ke psikolog di kampus tuh gratis loh. Prosesnya cukup panjang karena fokus utama itu berdamai dengan diri sendiri, lalu terbuka dengan orang yang melukai kita. Obatnya selain waktu, komunikasi dan kelegowo-an hati juga keinginan kuat karena semua itu harus dimulai dari kita, bahkan dikala kondisi atau lingkungan yang tidak kondusif/suportif sekalipun. DM me to know more lah ya #wink.

Berprinsip

Gw pernah dengar ceramah "Pernikahan itu berat tapi bisa dijalani dengan baik, sehingga hal-hal yang tidak masuk dalam prinsip buat apa ditengkari". Berkaca dari ini, buatlah daftar dan update terus prinsip kalian, mulai dari hal se-sepele "Hanya memakai baju bersih kalau mau masuk kamar" hingga sepenting "Pendidikan hingga bergelar minimal S2".

Mempunyai Target dan Visualisasikan

Setelah memahami hal diatas, kita akan lebih mengerti tentang kelebihan dan kekurangan diri, semacam SWOT hidup. Selanjutnya memiliki target, mengetahui langkah dan antisipasinya serta memvisualisasikannya. Kenapa hal ini penting, karena setelah menikahpun semua keinginan pribadi akan tetap ada, cuman sudah tidak ada lagi kata "aku" atau "kamu" yang ada hanyalah "kita". Sehingga peleburan kedua visi misi wajib terjadi toh segala keputusan juga hasil musyawarah berdua. Berdua ya, bukan sebendol desa dibawa-bawa. Kalau dibawa-bawa, malah red flag untuk kalian, segeralah mundur and thank me later.

No Drama

Semakin dewasa, semakin capek kita dengan tuntutan hidup, semakin sedikit pula ruang untuk memasukkan drama kedalamnya. Scroll di IG deh, kehidupan orang lain dan lihat betapa peliknya hidup dengan drama, kalau mau mengalaminya silahkan, jika tidak pull yourself together gurl!.

Berprinsip juga menjadikan kalian less drama, seperti "I'm not seeking for a boyfriend, I don't have a time with the drama, if you think we can be a great partner, lets figure it out". Biar yang main-main tereliminasi dengan sendirinya. Hal ini juga yang membuat "logika" berkata daripada "perasaan" dalam mencari pasangan walau bukan berarti menghiraukannya.

Find Out Who She/He Is and Show Her/Him The Real You

Kalau kata pepatah "Follow your heart but take your brain with you". Jangan sampai saat masa pacaran bucin pas sudah nikah baru mulai mengenal, ya kebaliklah! #TeriakPakaiToa. Masa-masa pengenalan inilah masa yang paling crucial, menimbang dan mencari tahu apakah dia orang yang tepat untuk saya dengan melihat semua hal diatas. Begitu menikah, tutup mata karena dialah orang yang saya pilih, saya terima paket lengkap, baik dan buruknya. Sekali lagi, jangan kebalik!

Mengingat ini hubungan kedua belah pihak, berarti keduanya harus saling terbuka tentu harus ada inisiasi dari salah satunya. Ini saat yang tepat untuk menunjukkan diri serta sifatmu apa adanya, perlihatkan prinsipmu, ceritakan pencapaian dan kegagalanmu, apa mimpimu, apa kesukaan dan ketidasukaanmu, bagaimana kamu marah, jangan menghindari timbulnya konflik atau masalah, bagaimana kamu menyelesaikan permasalahan perbedaan pendapat, semuanya.

The right person will always come at the right time!

When You (Finally) Find The One

Setelah menemukan orangnya bukan berarti masalah kelar disini, ini baru setengah dari permulaan, bahkan belum dimulai. Dengan menggunakan reversed brain storming dan merangkum beberapa bacaan di google dan tontonan di youtube, ada tiga hal yang membuat pernikahan kandas, yaitu:

  1. Visi Misi Berbeda
  2. Hadirnya Orang Lain
  3. Ekonomi

Ketiga hal tersebut dapat diminimalisir dengan menerapkan hal diatas dibarengi dengan komunikasi dan keterbukaan yang terjalin dengan baik. Visi misi berbeda, harusnya tidak menjadi momok jika dari awal perkenalan sudah saling mengutarakan seperti apa keinginan pribadi masing-masing yang menyangkut kehidupan pernikahan maupun target pribadi.

Hadirnya orang lain tidak selalu "wanita/pria idaman lain" tapi bisa juga anggota keluarga yang ikut campur dalam urusan keluarga kalian atau sifat tidak tegas kalian/pasangan terhadap orang tersebut atau sifat kalian/pasangan yang masih di setir sama keluarga. Keuangan, jangan membeli kucing dalam karung, tanyakan sedetail mungkin, lihat lagi list prinsip kalian dalam hal keuangan, jangan kelewat and don't ever compromise yourself, you will regret it.

Selain itu, tanyakan juga seperti berapa banyak keturunan, tinggal dimana hingga semua daftar prinsip kalian sudah habis ditanyakan. Ingat mau sesepele apapun itu. Semua hal ini berkedudukan sama ya, jadi kalau kalian berprinsip tidak boleh hutang, berarti baik kalian/pasangan tidak boleh ada hutang, prinsip yang kalian sepakati berlaku untuk keduanya.

Pelajari juga tentang love languages masing-masing, agar tidak saling roaming dalam mengutarakan cinta dan merasakan perasaan dicintai. Dan secara tidak sadar kalian sedang belajar berkomunikasi, mencari cara berkomunikasi yang tepat bersama pasangan karena lagi-lagi semua landasan dari hubungan sosial manapun ya apalagi kalau bukan komunikasi efektif. Oiya jangan menghindari pertengkaran/selisih paham ya, itu tidak baik. Malah jika kalian bisa bertengkar sehat, makin menambah poin komunikasi dan rasa saling didengarkan. Google deh.

Rekomendasi buku bacaan : Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan

Last, Don't forget to have fun and good luck!

Next, Part 2 - Questions List That You Wish, You Have Known and Asked Before The Day

Free Pic : Wedding vector created by freepik - www.freepik.com