"Hanya, ke depan, jangan mencubit orang lain kalau tak ingin dicubit, karena dicubit itu rasanya sakit." - Inggit Garnasih kepada Fatmawati

Inggit Garnasih lahir di Kab. Bandung tahun 1888 merupakan seorang kembang desa yang konon nama Inggit disematkan kepadanya karena Ia sering diberi uang seringgit sejak masa kecil. Menikah dengan Nata Atmadja seorang Patih di Kantor Residen Priangan dan tak berselang lama pernikahan tersebutpun berakhir. Inggit menikah lagi dengan H. Sanusi sang mantan pacar.

Menyelami kehidupan pernikahan di Kota Bandung hingga akhirnya Ia bertemu dengan Soekarno yang melanjutkan kuliah di ITB sekaligus tinggal dirumah mereka bersama sang istri Siti Oetari yang merupakan putri kesayangan H. Oemar Said Tjokroaminoto sang Bapak kos Soekarno saat bersekolah di Surabaya.

Menurut penuturannya dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965) “Aku menciumnya. Dia menciumku. Lalu aku menciumnya kembali dan kami terperangkap dalam rasa cinta satu sama lain. Dan semua itu terjadi selagi ia masih istri dari Sanusi dan aku suami dari Oetari,...". Setelahnya, merekapun menikah.

Menemani sang proklamator tinggal berpindah-pindah tempat selama masa perjuangan, menafkahi keluarga selama Soekarno di Penjara Banceuy hingga perasingan di Ende, Flores tidak membuat cinta dan pengabdian Inggit Garnasih selama masa tersulit kehidupan Soekarno berkurang. Hingga akhirnya Sang Pujangga Hati meminta izin untuk memadunya dengan Fatmawati, “Oh candung? Ari dicandung mah, cadu" dan akhirnya Sang Srikandipun memilih untuk pergi.

Heritage List

Sebelumnya, Soekarno pertama kali bertemu dengan Fatmawati di Bengkulu tahun 1938 (tempat perasingan kedua setelah Flores) saat kedua orangtuanya berniat untuk menitipkan Fatmawati kepada Soekarno dan Inggit selama Ia bersekolah di RK Volkshool bersama Ratna Djuami (keduanya lahir pada tahun 1923).

Masih dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965) "Istriku sudah mendekati usia 53 tahun. Aku masih muda, penuh vitalitas, dan memasuki usia terbaik di puncak kehidupan. Aku menginginkan anak. Istriku tidak dapat memberikannya padaku. Aku menginginkan kegembiraan hidup. Inggit tidak lagi memikirkan soal-soal seperti itu...”. Begitulah sekiranya awal kisah cinta Fatmawati dan Soekarno yang menikah pada tahun 1943.

Sebenarnya lebih banyak kisah perjuangan yang diceritakan pada rute Her Story: Inggit Garnasih, mulai dari kisah Soekarno berguru dengan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang ternyata buka praktek di daerah Dalem Kauman, asal usul Bank Woori Saudara atau dulunya bernama Himpoenan Soedara yang didirikan oleh sepuluh saudagar muslim penjual batik di Kota Bandung pada tahun 1906, peristiwa Bandung Lautan Api hingga kisah perjuangan Dewi Sartika. Cuman, gw lebih tertarik sama kisah cinta mereka yang menguras emosi ala ala drama Korea. Biar kita bisa menarik hikmahnya. #wink

See you next week!