Bandung adalah kota yang tepat untuk santai-santai menikmati udara sejuk dan pemandangannya, kabur dari hiruk pikuk dan monotonnya hidup yang terulang-ulang setiap harinya. Kedatangan mama dan dodetz membuat rute liburannyapun menyesuaikan dengan kegemaran mereka yaitu nongkrong walau gw tetap usaha untuk menyelipkan kegiatan lain.

Cafe pertama yang didatangi adalah Sunday Bowl Cereal Club, cafe tematik yang hanya menjual cereal dengan berbagai pilihan dari lokal hingga import. Mereka buka tiap hari dari jam 8 pagi hingga 5 sore untuk weekday dan 8 malam saat weekend. Harga perporsinya mulai dari 35k-50k, gw rekomendasiin pesan Cereal Swirl, campuran ice cream dengan cereal #enaaak. Design interior cafenya lucu ditambah dengan beberapa maskot yang sengaja dirancang sendiri oleh sang pemilik cafe, cocok mendapatkan satu tempat di feed baru IG kalian.

Selanjutnya, jangan melakukan hal bodoh karena sotoy seperti gw (wajib konfirmasi via CS dahulu ya) dengan ngide untuk foto di Ciwalk agar bisa milih antara Papyrus atau Jonas, alih-alih memudahkan malah menyusahkan karena setelah cek pricelist jauh murah Papyrus dan yang di Ciwalk cuman ada photobox, hadeh. Tips Gwendry, pilih paket ceria 120rb (untuk dua orang) lalu tambah dua puluh ribu/orangnya, total 160rb sudah dapat empat foto cetak yang teredit. #Hemart (Hemat + Smart)

Malam berlanjut membuat duo ibu-ibu ini (silahkan tengok baju hitam dan coklat diatas) makin mager untuk jalan, akhirnya pada nongkrong ditempat hype Bandung yaitu Stocker House. Bagi yang penasaran, tempatnya mirip M-Bloc lengkap dengan kedai kopi, ice cream, nail art studio dan self potrait studio. Cuman gw nggak tahan duduk berlama-lama dan berhasil membujuk untuk jalan-jalan ke kawasan Asia Afrika.

Awalnya cuman iseng mau foto di proyektor De Majestic tapi setelah ngobrol panjang dengan penjaganya malah diperbolehkan untuk masuk dan melihat-lihat isi dari gedung ini. De Majestic atau jaman dahulu tempat ini lebih dikenal sebagai Bioscoop Concordia merupakan gedung bioskop pertama di Bandung dibangun oleh salah satu arsitek ternama sekaligus dosen ITB Prof. Ir. Wolff Schoemaker (yang makamnya terletak di pemakaman Pandu) dengan aliran gaya Indo Europeeschan Architectuur Stijil dan menampilkan film Loetoeng Kasaroeng sebagai film perdananya.

Sebelum masuk si penjaga bertanya "Boleh masuk, tapi kalian ada yang sensitif tidak?" "Tidak kok pak" Jawab Gwendry berbohong, hehe abis penasaran dan tak mau melewatkan kesempatan depan mata. Saat masuk, gw bisa membayangkan bagaimana megahnya dulu gedung ini walau tidak seluas Gedung Kesenian Jakarta. Menurut penjaganya, gedung ini sekarang beralih fungsi menjadi gedung pertunjukkan dan masih digunakan hingga sekarang, umumnya dipakai untuk pertunjukkan kesenian sunda dan untuk acara "anak muda" gedung ini kurang cocok karena kapasitasnya yang tidak terlalu besar. Fasilitas digedung ini pun cukup compact, hanya ada ruangan kantor yang juga difungsikan untuk ruangan panitia acara, ruang rias dan kamar mandi yang terletak dibelakang panggung.

Terakhir, KM 0 Bandung tempat Daendels menancapkan tongkatnya seraya berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd”  artinya "Coba usahakan, bila aku datang kembali di tempat ini telah dibangun sebuah kota.” Nanti akan gw ceritakan lebih lengkap setelah ikutan walking tour wilayah Asia Afrika ya, Toodles!